Saturday, March 21, 2015

Cendol susu

cendol durian paling enak

Cendol dan Goyang

Ngomong-ngomong soal goyangan, di tatar Sunda sudah nge-hits duluan dengan jenis  goyangan yang satu ini. Bukan goyang dumang, goyang nge-bor, goyang nge-cor, goyang gergaji serta goyang-goyang yang mengambil istilah dari toko matrial dan sempat kena blacklist lembaga sensor.
Goyangan ini tidak terlahir dari satu aliran musik tapi sebagai bentuk kekaguman untuk mendeskripsikan kemolekan para mojang priangan. Goyangan tanpa musik. Keren bukan? Namanya eplok cendol. Eplok berasal dari kata keplok. Satu kata kerja yang menggambarkan kondisi dimana benda cair atau semi cair bergerak/bergoyang karena mendapat gaya dari benda lain (weesss... Gaya nih pake istilah fisika). Sehingga menimbulkan riak dan sering kali menjurus jadi tumpah.
Riak cendol yang bergerak dalam wadah ke kiri-kanan bergoyang kian-kemari, membentuk irama. Saking uniknya riak yang ditimbulkan dari kumpulan serdadu yang terendam dalam santan ditambah gula aren yang dicairkan sampai dijadikan pujian untuk mojang yang sedang berjalan. Cara mereka berjalan membentuk irama yang membuat para kaum adam terkagum-kagum. Tidak ada istilah eplok cingcau atau eplok bajigur apalagi eplok bandrek. Biasanya ungkapan pujian lengkapnya seperti ini, “bahenol nerkom, eplok cendol.” Untuk menterjemahkan maupun mengartikan ungkapan ini cukup sulit, lebih mudahnya bisa dianalogikan seperti ketika kita menyaksikan J. Lo, Beyoncě atau Shakira. Jadi silahkan diimaginasikan masing-masing.
Di tahun 80-an ada satu lagu yang terinspirasi oleh kondisi ini. Lagunya dicipta dalam wanda (irama) jaipongan yang dipopulerkan oleh sinden Jaipong legendaris Cicih Cangkurileung judulnya “EPLOK CENDOL” bisa di-toong (intip) ke Youtube. Dengan kata kunci yang sama tentunya.   
Jadi, mari kita bersama-sama menikmati cendol yang uplak-eplok bersama “Eplok Cendol” Cicih Cangkurileung.


Cheeersss...

yang ingin minum cendol susu, mampir ke gerai cendolsin ya