Cendol dan Goyang
Ngomong-ngomong soal goyangan, di tatar
Sunda sudah nge-hits duluan dengan jenis
goyangan yang satu ini. Bukan goyang dumang, goyang nge-bor, goyang
nge-cor, goyang gergaji serta goyang-goyang yang mengambil istilah dari toko
matrial dan sempat kena blacklist lembaga sensor.
Goyangan ini tidak terlahir dari satu
aliran musik tapi sebagai bentuk kekaguman untuk mendeskripsikan kemolekan para
mojang priangan. Goyangan tanpa musik. Keren bukan? Namanya eplok
cendol. Eplok berasal dari kata keplok. Satu kata kerja yang
menggambarkan kondisi dimana benda cair atau semi cair bergerak/bergoyang
karena mendapat gaya dari benda lain (weesss... Gaya nih pake istilah
fisika). Sehingga menimbulkan riak dan sering kali menjurus jadi tumpah.
Riak cendol yang bergerak dalam wadah ke
kiri-kanan bergoyang kian-kemari, membentuk irama. Saking uniknya riak yang
ditimbulkan dari kumpulan serdadu yang terendam dalam santan ditambah gula aren
yang dicairkan sampai dijadikan pujian untuk mojang yang sedang berjalan. Cara
mereka berjalan membentuk irama yang membuat para kaum adam terkagum-kagum.
Tidak ada istilah eplok cingcau atau eplok bajigur apalagi eplok
bandrek. Biasanya ungkapan pujian lengkapnya seperti ini, “bahenol nerkom,
eplok cendol.” Untuk menterjemahkan maupun mengartikan ungkapan ini cukup
sulit, lebih mudahnya bisa dianalogikan seperti ketika kita menyaksikan J. Lo,
Beyoncě atau Shakira. Jadi silahkan diimaginasikan masing-masing.
Di tahun 80-an ada satu lagu yang
terinspirasi oleh kondisi ini. Lagunya dicipta dalam wanda (irama)
jaipongan yang dipopulerkan oleh sinden Jaipong legendaris Cicih Cangkurileung
judulnya “EPLOK CENDOL” bisa di-toong (intip) ke Youtube. Dengan kata
kunci yang sama tentunya.
Jadi, mari kita bersama-sama menikmati cendol yang uplak-eplok
bersama “Eplok Cendol” Cicih Cangkurileung.
Cheeersss...
yang ingin minum cendol susu, mampir ke gerai cendolsin ya
cek : www.cendolsin.com

